Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Cerpen"Kemarau" karya Andrea Hirata

Gambar
Cerpen Andrea Hirata ( Kompas , 25 Juli 2010) BARANGKALI karena hawa panas yang tak mau menguap dari kamar-kamar sempit yang dimuati tujuh anak. Barangkali lantaran mertua makin cerewet karena gerah. Barangkali karena musim kemarau telanjur berkepanjangan, kampung kami menjadi sangat tidak enak setelah bulan Maret sampai September. Tak ada yang betah di rumah, dan makin menyusahkan karena tak ada hiburan di luar. Adakalanya biduanita organ tunggal meliuk-liuk seperti belut sawah di atas panggung berhias pelepah kelapa di pinggir pantai, lebih menyanyikan maksiat daripada lagu. Tapi itu hanya lama-lama sekali, pun kalau harga timah sedang bagus—yang amat jarang bagus.

Cerpen"Dan Lalu" oleh Djenar Maesa Ayu

D an berjalan tertatih memapah Lalu. Selalu saja terjadi seperti itu. Padahal sebelumnya Dan berniat untuk maju. Tak lagi mengindahkan tangis Lalu di belakangnya yang mendayu-dayu. Tapi untuk kesekian kalinya Dan kalah. Kedua kakinya urung melangkah. Tangis Lalu ibarat tali tambang yang menjerat erat kedua kakinya agar tidak pindah. Dan tak berdaya walaupun sebenarnya sudah merasa teramat sangat jengah. Ketika Dan pertama kali bisa mengingat, itulah awal ia mengenal Lalu. Saat itu Lalu adalah seorang bocah yang masih lugu. Dan ingat betul hari pertama Lalu pergi ke sekolah. Rambutnya yang dikuncir kuda, berpita merah. Tangannya digandeng oleh pembantu. Sementara anak-anak lain datang diantar Ibu. Gerak tubuhnya kaku. Sorot matanya ragu. Lalu seolah tenggelam di dalam lautan orang tua, murid dan guru. Dan juga masih ingat betul semua kejadian di dalam rumah Lalu yang terletak di kawasan mentereng. Di tingkat rumah gedongan itu ada sebuah tempat khusus untuk...